Sekjen Kemendag Sorot Pentingnya Pemanfaatan Instrumen Pemulihan Perdagangan Untuk Lindungi Industri Dalam Negeri

JOURNAL INDONESIA SATU.Com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto menerangkan, perkembangan perdagangan dunia yang didorong pembukaan akses pasar juga mendorong peningkatan pemanfaatan instrumen pemulihan perdagangan (trade remedies) oleh
negara-negara anggota World Trade Organization (WTO). Perkembangan telah terjadi baik di
tataran global (multilateral), regional, maupun bilateral.

Demikian diungkapkan Suhanto dalam pembukaan dialog interaktif tentang peningkatan peran
dalam perlindungan industri dalam negeri terhadap perdagangan yang tidak adil (unfair trade). Acara tersebut digelar Kementerian Perdagangan melalui Komite Anti Dumping Indonesia (KADI)
di Jakarta, kemarin, Selasa (13/6).

“Persaingan antar pelaku perdagangan, baik pelaku eksportir maupun eksportir produsen,
semakin ketat untuk memenangkan pangsa pasar di negara tujuan ekspor. Hal ini akan
berdampak pada industri dalam negeri. Instrumen pemulihan perdagangan disiapkan dan
disepakati negara anggota WTO sejak awal pembentukan WTO sebagai mekanisme perlindungan
bagi industri dalam negeri setiap anggotanya, terutama karena praktik dagang yang tidak adil,”
jelas Suhanto

Suhanto menjelaskan, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) dibentuk pada tahun 1996 sebagai
Otoritas Penyelidikan Anti-Dumping dan Anti-Subsidi di Indonesia. Hingga saat ini, KADI belum
memaksimalkan pemanfaatan tindakan anti-dumping dan tindakan imbalan. Indonesia baru
menuduh sebanyak 88 kasus dan hanya 49 kasus yang berhasil diterapkan Bea Masuk
Anti-Dumping (BMAD).

Dengan tindakan anti-dumping, diharapkan produk dalam negeri dapat bersaing secara sehat
dengan produk impor yang terbukti melakukan dumping. “Adanya persaingan yang sehat dapat
memulihkan kinerja perusahaan yang pada akhirnya dapat menggiatkan roda perekonomian
nasional,” ujar Suhanto.

Kementerian Perdagangan mengajak seluruh pihak, baik industri dalam negeri, instansi terkait,
dan pemangku kepentingan lainnya untuk terus berkolaborasi untuk meningkatkan pemanfaatan
instrumen pemuihan perdagangan ini dalam melindungi sekaligus mendorong pertumbuhan
industri dalam negeri.

Dengan digelarnya dialog Interaktif tersebut, diharapkan seluruh peserta, terutama yang
mengalami kerugian akibat impor dumping, berperan aktif dalam memanfaatkan dan
mengimplementasikan instrumen pemulihan perdagangan dalam melindungi industrinya di dalam
negeri.

Dialog interaktif dihadiri 97 peserta dari perwakilan industri dalam negeri, eksportir, calon
eksportir, asosiasi usaha, praktisi hukum dan konsultan. Peserta diharapkan dapat menerima
pemahaman yang lebih baik terkait kasus-kasus dumping, subsidi, ketentuan yang berkaitan
dengan instrumen pemulihan perdagangan.

“Semoga melalui kegiatan ini, para pelaku usaha Indonesia semakin memahami manfaat dari
instrumen pemulihan perdagangan kala tantangan impor mengancam keberlangsungan usaha. Sudah menjadi tugas pemerintah untuk memberikan perlindungan dimaksud agar industri
di dalam negeri tercinta ini bertumbuh sehat dan mampu mendorong pertumbuhan perekonomian
bangsa,” pungkas Suhanto. (Red-RLS)

Related posts

Leave a Comment